Produsen Keramik Tertekan Akibat Pembatasan Pasokan Gas

Industri keramik nasional tengah menghadapi tantangan besar akibat pembatasan pasokan gas bersubsidi. Kebijakan ini membuat sejumlah produsen harus mengurangi kapasitas produksinya hingga 50 persen.
Menurut Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), keterbatasan suplai gas menyebabkan biaya produksi melonjak tajam. Gas merupakan salah satu komponen utama dalam proses pembuatan keramik, sehingga kenaikan harga maupun pembatasan distribusi berdampak langsung pada efisiensi dan daya saing industri.
Ketua Asaki menilai kondisi ini berpotensi menekan keberlangsungan usaha, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah yang modalnya terbatas. Apabila situasi ini tidak segera ditangani, maka tidak hanya produktivitas yang terganggu, tetapi juga penyerapan tenaga kerja di sektor keramik bisa ikut terdampak.
Pemerintah sebelumnya memberikan insentif harga gas industri untuk menjaga daya saing manufaktur nasional. Namun, keterbatasan anggaran serta dinamika pasokan membuat penerapannya mengalami kendala. Di sisi lain, pelaku industri berharap adanya solusi konkret agar sektor keramik tetap bisa bertahan, mengingat produk mereka memiliki kontribusi penting bagi ekspor maupun kebutuhan domestik.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketersediaan energi, khususnya gas, sangat krusial bagi keberlanjutan sektor manufaktur. Tanpa adanya kebijakan energi yang konsisten dan terjangkau, industri keramik dan sektor lain yang bergantung pada gas berisiko kehilangan daya saing di pasar global.

